KOMPAS, Selasa, 4 Maret 2008 | 18:57 WIBJAKARTA, SELASA – Prinsip “kalau bisa beli kenapa harus produksi” dinilai mantan Menristek dan Kepala BPPT Prof Zuhal sebagai penyakit yang melemahkan daya saing bangsa. Menurut Zuhal, di tengah kenyataan bahwa negara Indonesia adalah negara yang kaya itu tidak cukup. Untuk maju menjadi bangsa besar harus ditumbuhkan masyarakat berbasis pengetahuan yang nantinya akan mendorong munculnya ekonomi berbasis pengetahuan.

“Untuk mewujudkan Indonesia yang bersaing modal kaya itu tidak cukup. Perlu dipikirkan bagaimana membentuk daya saing dengan menata masyarakat, wiraswasta, pengetahuan, ketrampilan, sumber daya alam dan lingkungan hidup. Aset yang paling penting bagi saya adalah aset intelektual. Kita belum punya konsistensi dan tekad untuk mengembangkan masyarakat berbasis pengetahuan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (4/3).

Dalam peluncuran bukunya yang berjudul “Kekuatan Daya Saing Indonesia“, Zuhal menjelaskan bahwa penentu dari daya saing adalah ilmu pengetahuan yang dapat menghasilkan output 12 kali lipat seperti yang telah dilakukan salah satu perusahaan besar handphone dunia.

“Dengan ilmu pengetahuan, output yang bisa dihasilkan bisa berjumlah 12 kali lipat karena yang lebih berpengaruh adalah human capital, structural capital, dan customer capital. Kalau ada prinsip yang ngomong ‘mending beli daripada produksi’ itu yang melemahkan daya saing bangsa,” ujarnya.

Di dalam bukunya, Zuhal berupaya mengangkat budaya entrepreneurial mindset dan good government dalam rangka membangun model manusia Indonesia yang memiliki etos kerja efisien, produktif dan selalu ingin belajar.

Manusia-manusia yang demikian akan mendorong kemunculan ekonomi berbasis pengetahuan dimana ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi penggerak utama untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing bangsa. Oleh karena itu, Zuhal menegaskan, semua bidang harus berjalan bersama-sama.

Zuhal menyayangkan alokasi anggaran untuk riset iptek yang hanya sebesar 0,1 persen dari GDP. Menurut Kepala LIPI Umar Anggara Jenie selama ini dari 0,1 persen itu para ilmuwan Indonesia terus berupaya menyelesaikan riset-riset di enam bidang yang ditetapkan sebagai prioritas yakni bidang ketahanan pangan, kesehatan dan obat, energi, manajemen transportasi, ICT, dan pertahanan. (C2-08)